Survei Kuliah Tatap Muka, 1,2 Persen Mahasiswa INISNU Sangat Tidak Setuju

0
7
Hasil survei INISNU Temanggung

Temanggung, Hariansemarang.com –  Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menggelar survei jejak pendapat tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada tahun 2021-2022. Survei dilaksanakan berdasarkan Surat Edaran Pjs Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Nomor: In.21/PjsWr.1/AK/097/VIII/2021 tentang Survei PTM INISNU Temanggung yang digelar pada 1- 5 September 2021 sampai pukul 23.59 WIB secara online.

 

Berdasarkan data yang sudah masuk, ada 162 responden sampel dari semua program studi. Didapatkan beberapa data yaitu 47,5 persen (77 orang) setuju kuliah tatap muka, 46,3 persen (75 orang) sangat setuju kuliah tatap muka, 4,9 persen (8 orang) tidak setuju kuliah tatap muka, 1,2 persen (2 orang) sangat tidak setuju jika kuliah tatap muka.

 

Semua responden memiliki beberapa alasan tersendiri, baik yang sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Hal ini menurut Pjs Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan INISNU Temanggung Hamidulloh Ibda pada Rabu (8/9/2021), menampung aspirasi mahasiswa dan kebutuhan mahasiswa secara riil.

 

Dari beberapa alasan mahasiswa yang sangat setuju perkuliahan digelar secara tatap muka atau luring, ada beberapa aspek jika dirangkum. Pertama, dikarenakan menurut saya pembelajaran tatap muka lebih efisien dan cenderung mahasiswa lebih mudah untuk menerima materi, karena saat proses perkuliahan sistem online cenderung banyak mahasiswa yang malas untuk membaca. Kedua, agar kuliah berjalan lebih efektif, khususnya mahasiswa yg akan memulai KKL KKN dan PPL tidak kesulitan dan mudah dalam mencari sumber-sumber belajar sesama mahasiswa. Ketiga, pembelajaran daring sangat tidak efektif dari segi penyampaian materi, penghitungan presensi dan tugas-tugas menjadi sedikit kurang relevan dengan mata kuliah atau jurusan yang ditempuh. Mahasiswa juga menjadi abai dan tidak disiplin dengan tugasnya. Keempat, Dengan adanya tatap muka pembelajaran akan lebih efektif dan akan lebih kondisional, dengan demikian akan meningkatkan nilai perstasi dan pengemabangan mahasiswa. Kelima, terjadinya suatu hal yang kondisional karena terjadi interaksi secara langsung juga suatu keteraturan maka akan menimbulakan peningkatan perstasi juga pengembangan diri.

 

Dari beberapa alasan mahasiswa kategori setuju, secara umum bisa dijelaskan ke dalam lima aspek. Pertama, karena dengan pembelajaran tatap muka maka akan lebih efektif dalam menerima pelajaran. Kedua, karena jika daring tidak efektif untuk makul tertentu apalagi jika makul tersebut ada praktiknya. Ketiga, saya lebih suka tatap muka daripada LDR. Keempat, karena covid 19 di Indonesia sudah mengalami penurunan jadi bisa untuk tatap muka. Kelima, karena selama 2 tahun ini saya sudah merasakan bagaimana kuliah secara online dan sangat kurang efektif karena ketika perkuliahan kita hanya akan mendapatkan materi dan tidak mendapatkan penjelasan secara langsung sehingga kurang paham dan mengharuskan mahasiswa untuk selalu mempunyai paketan atau kuota karena media yang digunakan seperti Zoom, Google Meet sangat memakan kuota sehingga pengeluaran mahasiswa semakin meningkat.

 

Dari responden yang menjawab tidak setuju ada beberapa asalan. Pertama, kalau ada yang mudah jangan cari yang sulit, kalau online saja bisa mengapa harus offline, bagi saya yang berdomisili di Candiroto, dengan online lebih hemat biaya dan waktu, saya sudah berkeluarga, harus bekerja mencari nafkah, dengan online bisa dilakukan kuliah sambil bekerja. Kedua, karena masih banyak kasus penyebaran virus di kawasan Temanggung dan sekitarnya. Dan juga masih banyak mahasiswa yang belum ikut vaksin. Ketiga, karena sudah terbiasa pembelajaran daring, jadi sepertinya jika belum memungkinkan untuk tatap muka, pembelajaran di semester ganjil tahun akademik 2021/2022 bisa diselenggarakan secara daring dulu tidak masalah.

 

Sedangkan dari responden yang menjawab sangat tidak setuju hanya dua orang yang memiliki alasan. Pertama, karena wabah corona masih merajalela. Ada potensi penularan covid 19 jika berkerumun dalam kelas. Kedua, karena masih belum aman.

 

Dari beberapa saran untuk perbaikan kualitas pembelajaran, ada beberapa rangkuman dari responden. Pertama, perkuliahan dilakukan secara luring dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat, apabila jumlah mahasiswa terlalu banyak bisa dibuat sistem shift. Kedua, Karena stainu sudah bertransformasi menjadi INISNU maka pembelajaran kita juga harus bertransformasi menjadi lebih baik. Ketiga, agar dosen lebih memperhatikan mahasiswanya, tidak hanya diberikan tumpukan materi dan disuruh membaca sendiri saja. Atau berikan tugas yang dalam prosesnya bisa merawat komunikasi antara dosen dengan mahasiswa. Keempat, menurut saya diaktifkan saja kegiatan luring tetapi tetap mematuhi prokes. Kegiatan luring sangat membantu dalam proses pembelajaran karena adanya interaksi langsung seperti diskusi, tanya jawab, dll. Jika masih banyak pertimbangan untuk melakukan proses pembelajaran secara luring, maka sebaiknya disepakati saja setiap hari apa atau seminggu berapa kali pertemuan tetapi tetap memprioritaskan luring ketimbang daring. Kelima, pembelajaran tatap muka bisa segera mulai, bagi kelas khusus bila sebagian besar dengan daring semoga dosen lebih aktif di pembelajaran.

 

Untuk aspek vaksinasi, dari 162 itu, ditemukan 36,4 persen (59 orang) sudah 2 kali vaksinasi, 36,4 persen (59 orang) 1 kali vaksinasi, dan ada 27,2 persen (44 orang) belum pernah vaksin.

 

Ibda juga mengatakan bahwa hasil survei ini akan menjadi dasar kebijakan perkuliahan ke depan yang sesuai Kaldik akan dimulai pada 20 September 2021. “Insyaallah, ke depan semua kebijakan akan kita patronkan kepada hasil survei, jadi berdasarkan kebutuhan mahasiswa,” beber dia.

 

Pihaknya juga mengatakan, bahwa kota-kota besar seperti Semarang, sudah berani menggelar tatap muka terbatas. Ke depan, kebijakan tatap muka akan dirapatkan sesuai dengan berbagai dasar dan pertimbangan tertentu. “Pada semester genap tahun akademik 2020-2021 kemarin, kita sudah tatap muka 1 bulan 2 kali. Bisa jadi bertambah pada semester ganjil 2021-2022 tahun ini. Meski kita sudah siap tatap muka terbatas, namun akan kami siapkan pula aplikasi Zoom selama 1 tahun dan kami sudah berlangganan. Artinya, tatap muka atau tidak sudah kami antisipasi sejak dini,” jelasnya.

 

Untuk vaksinasi sendiri, INISNU bekerjasama dengan Kodim 0706/Temanggung dan AKPER Al-Kautsar pada 25 Agustus 2021 kemarin telah melakukan vaksinasi sebanyak 300 orang untuk mahasiswa dan alumni, masyarakat luas yang belum melakukan vaksinasi. Artinya, menurut Ibda, hal ini menjadi jalan untuk mengantisipasi dan menyiapkan perkuliahan tatap muka karena sudah divaksin sesuai program dari pemerintah. (HS33/Hms)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here